Pesta Demokrasi KM UHAMKA

Pesta Demokrasi KM UHAMKA

Oleh: Rochman Adinegara (Wakil Presiden Mahasiswa UHAMKA)

            Ditahun 2017 ini Keluarga Mahasiswa UHAMKA (KM UHAMKA) kembali menyelenggarakan pesta demokrasi atau biasa disebut Pemilu Raya yang di selenggarakan oleh MPM UHAMKA ditingkat Universitas dan DPM di tingkat fakultas maupun Program Studi, yang sebelumnya sudah membentuk panitia Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pesta Demokrasi merupakan ajang bagi para paslon untuk melanjutkan estafet kepemimpinan periode 2017-2018 yang ada di UHAMKA, dengan berbagai macam tingkatan, baik tingkat Universitas, Fakultas dan Program Studi. Khususnya di ranah eksekutif seperti BEM UHAMKA dengan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, BEM Fakultas dengan Ketua dan Wakil Ketua, Himpunan Mahasiswa dengan Ketua dan Wakil Ketua. Hal ini membuat daya saing yang sangat kuat, sehingga menjadi penasaran siapakah yang akan terpilih

Suatu hal yang sangat wajar, apabila banyak stakeholders yang menunggu hasilnya dikarenakan ini akan menentukan masa depan kehidupan kampus yang memiliki ciri khas sebagai kampus berpendidikan. Namun menjadi sebuah catatan penting ketika proses Pesta Demokrasi berjalan maka sudah sepantasnya bisa terlaksana dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

Mengingat pentingnya sebuah lembaga organisasi sebagai bagian dari poros pergerakan mahasiswa maka sudah sepatutnya setiap paslon mempersiapkan dirinya baik berupa persyaratan yang telah ditetapkan, visi dan misi. Agar siap mengabdi kepada mahasiswanya, karena merekalah yang akan menjadi pelita untuk menentukan arah pergerakan mahasiswa di UHAMKA dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusian berupa hak dan kewajiban.

Siapa pun yang terpilih jangan merasa besar hati dan bagi yang tidak terpilih jangan pula berkecil hati. Hal ini penting, agar tidak ada perpecahan dikalangan mahasiswa. Pada  hakikatnya kelembagaan mahasiswa bukanlah milik pribadi namun merupakan amanah seluruh mahasiswa yang telah menggunakan hak demokrasinya berdasarkan rasionalitas yang ada dipikirannya.

Pada dasarnya aktivis lembaga mahasiswa harus mampu memberikan contoh yang baik sebagai kaum Intelektual. Makna Intelektual tidak bisa dimaknai secara sempit berupa kemampuan akademiknya saja, namun mampu berbicara dan bertindak untuk kehidupan sosial yang ada disekitarnya. Bukan hanya sekedar menjalanan program kerja, namun bisa merumuskan dan menginterpretasikan kondisi sosial yang terjadi sehingga mampu mengadvokasikan nilai-nilai kemanusian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *