Ketimpangan Hukum Indonesia

Bangsa ini memang memiliki banyak potensi-potensi yang tidak bisa dianggap remeh. Baik dari sumber daya alamnya yang melimpah ruah yang membuat banyak orang-orang dan tokoh-tokoh dunia yang rela menghabiskan dana banyak walaupun hanya ingin menjumpai Indonesia. Bisa kita lihat salah satu contohnya dari sektor pariwisata adalah pulau Bali yang tidak pernah sepi akan kunjungan turis-turis asing dari belahan dunia manapun. Juga sumber daya manusianya yang setidaknya beberapa terobosan baru berkelas Internasional berasal dari pemikiran orang-orang indonesia salah satu contohnya adalah penemu dan sekaligus menjadi pemegang hak paten akan teknologi pemancar 4G Long Term Evolution (LTE) yang sudah digunakan di seluruh belahan dunia ini oleh Prof. Dr. Khoirul Anwar. Dan penduduk Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk muslim terbanyak saat ini. Yang bahkan pernah menggoncang Islam sedunia dengan Aksi mereka dalam Aksi Bela Islam III dan Aksi Bela Islam IV yang mendatangkan sedikitnya tidak kurang dari angka 3 juta kaum muslimin yang datang dari seluruh Negeri ini. Bahkan menurut perhitungan beberapa media saat Aksi Bela Islam IV kaum muslimin yang datang menyentuh angka 7 Juta umat. Waaahh hebatnya Indonesia.

Tapi, kenapa semua itu seakan hanyalah seperti figura-figura kehidupan saja??. Apa mungkin karena
semua kehebatan yang ada malah membuat banyak orang terlena dan malah membabi buta untuk
mencari keuntungan??. Kemana orang-orang yang katanya berjiwa nasionalis dan patriotis??.
Katanya kebaikan akan selalu berada di atas segalanya, tapi faktanya kenapa bangku kekuasaan
malah selalu diduduki oleh para penjahat??. Sudah banyak kasus-kasus korupsi yang selama ini terabaikan dan dibiarkan begitu saja oleh kaum- kaum yang mengatasnamakan intelektual. Bahkan tidak sedikit kasus korupsi yang menyeret beberapa nama dari golongan tersebut. Sebut saja kasus yang saat ini sedang heboh dan menggoncang tanah air ini. Yaitu kasus mega proyek Elektronik KTP atau biasa kita sebut E-KTP. Mega proyek ini bahkan merugikan negara setidaknya menyentuh angka 2,3 triliun rupiah dan menyeret beberapa nama pejabat publik tidak hanya kader-kader partai saja tapi juga orang-orang
yang berada di kalangan legislatif dan eksekutif. Memang patut kita ancungi jempol kepada pihak KPK dalam mengusut kasus ini sehingga mampu membongkar kejahatan yang begitu terstruktur secara sistematis dan teroganisir ini. Tetapi sayangnya, kenapa
penangan kasus ini begitu lamban penuntasannya. Dan bukan Cuma kauus ini saja, beberapa kasus korupsi sebelumnya pun belum juga tuntas. Seperti kasus bank century yang hilang begitu saja, kasus BLBI yang juga hilang begitu saja, kasus pembelian lahan rumah sakit Sumber Waras, dan beberapa kasus lainnya yang masih belum terungkap sepenuhnya. Apa karena ada beberapa nama pejabat tinggi Negeri ini yang terlibat sehingga begitu lama dituntaskan.
Tapi mengapa giliran kasus-kasus kriminalitas lainnya yang melibatkan orang-orang menengah ke bawah begitu cepat terungkap?? Ingatkah kasus nenek-nenek yang mencuri mangga di daerah solo yang divonis penjara selama 1,5 tahun penjara?? Ingatkah dengan kasus kekerasan guru kepada peserta didiknya yang hampir di vonis penjara 15 tahun?? Dan bahkan kalau masih ingat pengungkapan kasus jaringan teroris Abu Sayyaf yang begitu terorganisi namun dapat terungkap dengan cepat. Semua kasus ini dapat terselesaikan dengan cepat tanpa ada hambatan yang berati sepertinya. Bahkan pihak kepolisian pun mendapat apresiasi tertinggi dari presiden kita akan terungkapnya kasus Abu Sayyaf ini. Tapi sekali lagi giliran kasus mega proyek E-KTP begitu lamban terselesaikannya??.
Sudah saatnya lah sekarang kita mahasiswa sebagai garda terdepan rakyat untuk bersuara. Ketika
para durjana kekuasaan asik berpesta pora dengan hasil mega proyek tersebut, kita lah yang akan menghancurkan acara perayaan mereka. Mahasiswalah yang akan berusaha membuka mata dan telinga para tokoh Negeri ini. Dan mahasiswalah yang akan mendobrak paksa rezim saat ini yang ternyata quality of law Negeri ini masih saja lancip ke bawah. Bila pihak berwenang masih lamban menyelesaikan kasus ini, maka kami mahasiswa lah yang akan memaksa para tokoh negeri ini bertindak. Kami bertindak bukanlah karena kami senang dalam berdemo. Tapi kami bertindak atas nama Kemarahan rakyat yang selalu tertindas oleh rezim ini.

Sadarlah duhai para kaum intelektual sebelum tuhan yang menyadarkan kalian. Sudah saatnya kita ambil peran untuk masalah negera ini. Janganlah kita membiarkan air mata kesengsaraan bangsa ini terus mengalir.
Rakyat Indonesia membutuhkan kita sebagai mahasiswa untuk menyadarkan para pemimpin Bangsa ini.

(M. Wahyudin Al-ayubi, Mahasiswa Uhamka; 2013)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *